Halaman sebelumnya Menjadi seorang penulis adalah hal yang mudah tergantung niat dan kemauan untuk memulai untuk menulis dan jangan pernah mengatakan sulit sebelum mencobanya. Menulis itu gampang. Benar-benar gampang! Itulah kesimpulan Arswendo Atmowiloto. Menulis itu tak perlu bakat, timpal Among Kurnia Ebo, seorang wartawan harian nasional terbesar kedua di Indonesia. Lebih gila lagi, Septiawan Santana bilang menulis ibarat ngomong. Apakah menulis segampang orang ngomongkah? Mungkin ya bagi orang seperti Arswendo, tetapi tidak untuk Anda.

Masih percyakah pada mitos-mitos seperti ini:

“memang bukan bakatnya menjadi penulis.”

“Tak ada leluhur saya yang lahir sebagai penulis.”

“Menulis itu sulit.”

Mitos-mitos itu harus kita bongkar dikepala kita saat ini. Bahkan bukan hanya dalam hal penulisan. Dalam hal lain pun, mitos ini tidak bias percaya. Bakat muncul karena digali terus-menerus. Kecerdasan muncul karena diasah terus-menerus. Filsafat kuno mengatakan bahwa pisau yang tumpul akan menjadi tajam kalau diasah setiap hari, dalam hal ini justru masih sangat relevan. Anak TK hamper bias dipastikan mampu menulis, malahan sudah ada yang mampu mengarang, apalagi alumni SMA, Perguruan Tinggi yang masa asahnya lebih lama.

Selain alasan klasik tadi, menurut Jonru ada empat alasan standar yang biasa dilemparkan saat ditanya kenapa Anda tidak mau menulis?

1. Saya masih sangat sibuk, saya tidak punya waktu banyak.
2. Nanti saja setelah lulus SMA.
3. Ilmu saya masih sedikit, nanti kalau sudah ahli saya akan mulai menulis.
4. Saya tidak tahu cara untuk memulai menulis.

Mereka merasa “berada dipihak yang benar” dengan alasan-alasan itu. Tetapi apakah mereka berada dalam “kebenaran?”. Apakah alasan mereka cukup kuat? Selengkapnya disini.

Sekali lagi sejuta alasan diatas sangat berbahaya. You can if you think you can, kata psikolog kondang Norman Vincent Peale. Anda tidak semsetinya membangun tembok-tembok tinggi yang membatasi pengembangan pribadi Anda sendiri. Sebaliknya bukalah pintu-pintu, saluran-saluran dan kesempatan-kesempatan baru yang mencerahkan masa depan Anda.

Secuil ungkapan Zainal Arifin Thoha mungkin bisa meruntuhkan sejuta alasan anda untuk berkelit dari menulis atau tindakan yang positif apapun didunia ini. “Lebih baik bertindak sedikit, daripada tenggelam dalam angan-angan ingin bertindak banyak.”

You can if you think you can, you can if you feel you can, you can if you breaf to start.

HASAT MENGUBAH DUNIA

Ketika masih muda aku bebas berkhayal

Aku bermimpi ingin mengubah dunia

Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,

Kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah

Maka cita-citaku itupun agak kupersempit,

Lalu kuputuskan hanya untuk mengubah negeriku.

Namun tampaknya

Hasrat itu tak ada hasilnya

Ketika usiaku semakin senja

Dengan semangatku yang masih tersisa

Kuputuskan untuk mengubah keluargaku

Orang-orang yang paling dekat denganku

Tepi celakanya

Merekapun tidak mau berubah!

Dan kini,

Sementara aku terbaring saat ajal menjelang

Tiba-tiba kusadari

“Andaikan yang pertama-tama yang kuubah adalah diriku

Maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan,

Mungkin aku bisa mengubah keluargaku

Lalu berkat inspirasiku dan dorongan mereka

Bisa jadi ku mampu memperbaiki negeriku

Kemudian siapa tahu, aku bahkan bisa merubah dunia”.

Epitaph sebuah makan di Westminter Abbey,

Inggris, 1100 M.

Semoga bisa menjadi bahan renungan.

Salahlangkah #2: lebih baik bertindak sedikit dari pada tenggelam dalam angan-angan ingin bertindak banyak

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • Google
  • Technorati
  • TwitThis
  • Yahoo! Buzz